Kepulauan Ingatan - Perjalanan 45 Tahun Garin Nughroho

01:00pm, Fri 30th Oct 2026

Kepulauan Ingatan - Perjalanan 45 Tahun Garin Nughroho

01:00pm, Fri 30th Oct 2026

MIMBAR SUARA

Suara Yang Hilang

What can the voice hold when a language, a landscape, a tradition, or a way of life begins to disappear?

Conceived by Garin Nugroho as part of Kepulauan Ingatan, his 45-year creative journey, Mimbar Suara is a vocal forum where songs, chants, spoken narratives, movement, and personal experience become ways of telling stories and exchanging perspectives.

Rather than a conventional discussion, each artist takes the stage through their own vocal practice. Songs and chants become the starting point for stories of research, history, lived experience, and cultural memory, followed by conversations with the audience.

For its first edition, Mimbar Suara: Suara Yang Hilang looks at cultural heritage through the things gradually disappearing around us: languages, land, flora and fauna, agricultural traditions, and the cultural spaces increasingly displaced by modern life.

Across three days, three artists from Papua, Surabaya, and Bali bring three distinct perspectives on what it means to lose something—and what might still be remembered, retold, and found again.

 

SEPTINA LAYAN •⁠ Sounds, Language & Memories from Papua

30 Oktober 2026

Composer, improviser, vocalist, and musicologist Septina Layan brings together new compositions rooted in the sounds and mother tongues of the places that have shaped her—from her Tanimbar heritage in Maluku to the land and communities of Papua where she grew up.

Through a lecture-performance of songs, chants, personal memories, research, and documentary material, Septina traces relationships between people and the natural world: the land beneath them, forests and sago that sustain them, waters that provide, and species such as the bird-of-paradise that once filled the landscape of her childhood.

Her performance moves from gratitude to loss, asking what happens when forests, languages, traditions, and ways of living begin to disappear—and how the act of singing can carry their memory forward.

 

MARISKA SETIAWAN •⁠ Yang Tak Terjual

31 October 2026

Surabaya-born soprano Mariska Setiawan enters the disappearing world of Komedi Stamboel, once a popular form of theatre in the port city of Surabaya.

Through monologue, acting, and keroncong songs, Yang Tak Terjual follows a female entertainer who survives through the men passing in and out of the harbour. As the port expands and the city modernises, the sea that once sustained it is increasingly sacrificed in the name of progress, while the culture surrounding her slowly disappears.

Satirical, sensual, humorous, and melancholic, the performance asks a simple question: when bodies, land, culture, and nature can all be given a price, what remains that cannot be sold?

 

DAYU ANI •⁠ ‘Aku’ yang Hilang

1 November 2026

Balinese choreographer, dancer, and educator Dayu Ani turns inward to examine the gradual disappearance of Bali’s agricultural landscape—and the cultural knowledge disappearing with it.

Beginning with her own memories of rice fields slowly giving way to homes and development, ‘Aku’ yang Hilang moves beyond the loss of landscape to something more personal: the realisation that what is disappearing is also the connection between the self, ancestral knowledge, and the agrarian culture that once shaped everyday life.

Performed by seven dancer-vocalists, the work brings voice and movement into a single language, moving through kidung, sloka, vocal experimentation, and knowledge drawn from the ancient Aji Pari manuscript. Minimalist choreography continues ideas developed through Dayu Ani’s work on Garin Nugroho’s Samsara, bridging the agrarian cultures of Java and Bali through Bedayan and Sesanghyangan.

---

MIMBAR SUARA

Suara Yang Hilang

Apa yang dapat diingat oleh suara ketika bahasa, lanskap, tradisi, atau cara hidup perlahan mulai menghilang?

Digagas oleh Garin Nugroho sebagai bagian dari Kepulauan Ingatan, perayaan perjalanan kreatifnya selama 45 tahun, Mimbar Suara adalah sebuah forum vokal yang menjadikan lagu, lantunan, tuturan, gerak, dan pengalaman personal sebagai cara untuk bercerita dan bertukar pandangan.

Berbeda dari forum diskusi pada umumnya, setiap seniman hadir melalui praktik vokalnya masing-masing. Lagu dan lantunan menjadi titik awal untuk menuturkan perjalanan riset, sejarah, pengalaman hidup, dan ingatan budaya, yang kemudian dilanjutkan dengan percakapan bersama penonton.

Pada edisi pertamanya, Mimbar Suara: Suara Yang Hilang melihat warisan budaya melalui berbagai hal yang perlahan menghilang dari kehidupan kita: bahasa, tanah, flora dan fauna, tradisi agraris, hingga ruang-ruang budaya yang semakin terdesak oleh kehidupan modern.

Selama tiga hari, tiga seniman dari Papua, Surabaya, dan Bali membawa tiga perspektif berbeda tentang kehilangan dan tentang apa yang masih dapat diingat, dituturkan kembali, dan ditemukan. Bersama-sama, ketiga pertunjukan ini menjadikan Mimbar Suara bukan sekadar ruang untuk membicarakan apa yang perlahan menghilang, tetapi ruang untuk memberinya suara kembali.

 

SEPTINA LAYAN •⁠ Bunyi, Bahasa & Ingatan dari Papua

30 Oktober 2026

Komposer, improviser, vokalis, dan musikolog Septina Layan menghadirkan karya-karya baru yang berakar pada bunyi dan bahasa ibu dari tempat-tempat yang membentuk dirinya—dari warisan Tanimbar, Maluku, hingga tanah dan masyarakat Papua tempat ia tumbuh dan dibesarkan.

Melalui sebuah lecture-performance yang merangkai lantunan, ingatan personal, riset, dan materi dokumenter, Septina menelusuri hubungan antara manusia dan alam: tanah tempat berpijak, hutan dan sagu yang menghidupi, air yang memberi kehidupan, hingga cenderawasih yang dahulu hadir dalam lanskap masa kecilnya.

Pertunjukan bergerak dari rasa syukur menuju kehilangan, mempertanyakan apa yang terjadi ketika hutan, bahasa, tradisi, dan cara hidup perlahan menghilang, serta bagaimana suara dan lantunan dapat membawa ingatan tentangnya untuk terus hidup.


MARISKA SETIAWAN •⁠ Yang Tak Terjual

31 Oktober 2026

Soprano asal Surabaya, Mariska Setiawan, memasuki kembali dunia Komedi Stamboel, sebuah bentuk seni pertunjukan yang pernah hidup dan populer di kota pelabuhan Surabaya.
Melalui monolog, akting, dan lagu-lagu keroncong, Yang Tak Terjual mengikuti perjalanan seorang perempuan penghibur yang bertahan hidup dari lelaki-lelaki yang datang dan pergi melalui pelabuhan. Ketika pelabuhan berkembang dan kota semakin modern, laut yang dahulu menjadi sumber kehidupan perlahan dikorbankan atas nama kemajuan, sementara kebudayaan di sekitarnya ikut menghilang.

Satir, sensual, jenaka, sekaligus melankolis, pertunjukan ini mengajukan sebuah pertanyaan sederhana: ketika tubuh, tanah, kebudayaan, dan alam semuanya dapat diberi harga, apa yang masih tersisa yang tak terjual?

 

DAYU ANI •⁠ ‘Aku’ yang Hilang

1 November 2026

Koreografer, penari, dan pengajar asal Bali, Dayu Ani, melihat ke dalam untuk menelusuri menyusutnya lanskap agraris Bali—beserta pengetahuan budaya yang perlahan ikut menghilang bersamanya.

Berangkat dari ingatan personal tentang petak-petak sawah yang perlahan berganti menjadi rumah dan pembangunan, ‘Aku’ yang Hilang membawa kehilangan tersebut lebih jauh dari sekadar perubahan lanskap: menuju kesadaran bahwa yang turut menghilang adalah hubungan antara diri, pengetahuan leluhur, dan kebudayaan agraris yang dahulu membentuk kehidupan sehari-hari.

Dibawakan oleh tujuh penari yang sekaligus menjadi vokalis, karya ini menyatukan laku vokal dan laku gerak dalam satu bahasa pertunjukan, bergerak melalui kidung, sloka, eksperimen suara, serta pengetahuan yang bersumber dari naskah kuno Aji Pari. Koreografi minimalisnya melanjutkan gagasan dari karya Dayu Ani dalam Samsara karya Garin Nugroho, menjembatani kebudayaan agraris Jawa dan Bali melalui Bedayan dan Sesanghyangan.

Venue Details

Titik Dua Ubud
Jl. Cok Rai Pudak No.48, Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali
Ginyar, Bali, 80571